bahasa batin
Friday, March 31st, 2006di sepenggala terik ku coba merangkai kata dalam tulisan melalui aforsima yang ada dibenakku…, hitung-hitung “berselingkuh” dengan rutinitas hehe…hmmm
dari titik realitas kucermati bahwa manusia itu unik(unusuall),ada orang yang bisa mewakilkan bahasa batinnya mendekati sempurna melalui tulisan namun terkadang tak bisa mewakilkan bahasa batinnya melalui lisan didunia nyata.Sah saja, jika akhirnya sayapun memilih hal yang sama untuk berbagi pandangan tentang “Bahasa Batin”
Bahasa batin adalah bahasa paling murni didunia ini. Cinta, kekaguman, kepasrahan, keikhlasan, kerinduan dan seribu satu macam lainnya adalah sesuatuyang abstrak, ia tidak bisa dilihat, ia tidak bisa ditakar. karenanya volumenya demikian besar, ia tidak bisa ditampung oleh wadah yang terbuat dari gerabah apapun. Cinta, kekaguman, kepasrahan, keikhlasan, kerinduan, yang merupakan bahasa kalbu yang letak geografisnya entah dibelahan tubuh bagian yang mana. Cinta, kekaguman, kepasrahan, keikhlasan, kerinduan, merupakan bahasa murni yan mengisyaratkan seluruh sengatan rasa yang berdomisili di diri kita. Bahasa batin tersebut melibatkan seluruh emosi, angan-angan, daya fikir, dan entah apalagi. Sehingga, wajar saja, ketika bahasa batin yang sakral berusaha diturunkan derajatnya melalui bahasa lisan, tulisan, dan gerak maka makna yang ingin disampaikan menjadi kehilangan kapasitasnya.
well, sampai disini kita bisa membuat sebuah perumpamaan. Ibarat sebuah sungai, bahasa batin merupakan bahasa murni sebuah mata air pegunungan.Sedangankan bahasa lisan, bahasa teks dan bahasa gerak merupakan bahasa yang meski dikeluarkan dari mata air yang sama, sudah hampir berada di muaranya. Kita sudah mengetahui bahwa perbedaan air yang ada di hulu dan muara, akan mengakibatkan perbedaan tingkat kesucian. air yang ada dihulu pastilah memiliki kejernihan. Sedangakan air yang sedang dalam perjalanan menuju muara pasti tercampur kotoran yang menyebabkan tidak hegienis lagi.
Dari perumpamaan perjalanan air, kita dapat mengambil pelajaran, bahwa ketika bahasa batin mengalir menuju muara, ia akan tercampur oleh ketidaksucian yang dipengaruhi oleh ketidakmampuan mengutarakan karena kurang terasah mengolah bahasa tubuh dan emosi ataupun kesempitan perbendaharaan kata yang dimiliki sebuah bahasa bangsa. Inilah ketidaksucian dalam titik extrim, tragisnya dapat menyebabkan bahasa yang seharusnya menyehatkan jiwa, menjadi sesuatu yang menyakitkan, bagi si penerima.
tapi, apa daya? tangan tak sampai heheh ups salah…:),untuk mewakilkan bahasa batin, manusia mutlak memerlukan perantara(tekstual,lisan dan bahasa tubuh). Tanpanya, manusia tak mungkin mengkomunikasikan hasratnya yang terpendam. Tanpanya, bahasa batin seseorang tidak mungkin dipahami oleh orang lain.
akhirnya “perselingkuhanku” dengan ketikan bisa berakhir ,alhamdulillah:)…..
*kuntungu bhs batinmu dalam sebentuk nyata yang terurai:)*